Langsung ke konten utama

Postingan

B E K U (7)

            Aku tersenyum. Merasa hidupku lebih damai dan indah. Aku sekarang bahagia. Ayah ibuku tak pernah lagi berlaku buruk padaku. Mereka lebih menyayangiku. Teman-temanku selalu di sampingku. Darto? Ah hanya hubungan layaknya ikhwan dan akhwat sebagaimana seharusnya. Seperlunya saja. Rasanya semua terasa sudah cukup. The Story of Kintan End ***             “dia yang minta dikuburkan di Makassar saja bu”ucap seorang wanita paruh bayah sambil terisak. Dia mengenakan pakaian serba hitam.             “dia meninggal dalam keadaan damai. Wajahnya tersenyum”seorang nenek juga turut terisak hebat.             “dia perempuan yang hebat”remaja lelaki menatap jenazah yang tertutup kain.             “dia se...

B E K U (6)

            Sekarang hari-hariku diisi dengan seorang pria bernama Darto. Sedikit banyak dia mengajarkanku tentang agama yang selama ini hanya sebatas kutahu dari sekolah. Itu pun tak seberapa. Ternyata ilmu agama itu begitu luas, rasanya aku adalah makhluk paling bodoh jika berhadapan dengan agama. Sekarang aku punya kebiasaan baru. Bukan bermain dengan pisau lagi, bahkan aku sudah jarang sekali melihatnya. Nenek menyembunyikan semua benda tajam yang ada di rumah. Ketika sekelabat keinginan menyakiti diri datang lagi, aku punya jurus baru. Mendengarkan murrotal Al-Qur’an. Setiap kali perasaan-perasaan aneh itu mulai menghantui, aku langsung menggunakan sisa-sisa akal sehatku untuk memutar murrotal. Memang tak langsung berhenti, namun setidaknya cukup melegakan. Lama-lama aku jadi terbiasa dan aku tak tahu bahwa semuanya semenenangkan itu. Hingga akhirnya aku lupa rasa sakit dan tertidur. Ya sangat mengherankan memang. Darto men...