Langsung ke konten utama

Toxic Parenting

sebelumnya aku ceritakan yang aku alami sekarang. Saya curhat dikit dulu ye hehe... Seperti yang sudah pernah kuceritakan, bahwa di kepalaku selalu ada film thriller alias film berdarah-darah gitu. Iris-iris tangan sampe pucat kehabisan darah.  Kalau naik kendaraan,  yang dikepala tuh cuma kecelakaan terus berdarah-darah,  koma di rumah sakit. Extreme banget si emang. Gatau kenapa juga pikiran yang seperti itu muncul selalu.  Bahkan ngerasa pengen suicide tanpa alasan jelas.  Mungkin orang-orang kayak udah sanggup lagi dengan masalah hidupnya,  aku kadang cuma pengen aja gitu ngelakuinnya.  

Hari ini kita bahasa mengenai toxic parenting. Udah pengen bahas ini dari lama, mungkin pernah bahas dikit juga di tulisan sebelumnya. Ini efek abis nonton video mas Hansol tentang seorang anak yang tega membunuh dan mutilasi orang tuanya terus bagian-bagian tubuhnya disebar ke berbagai tempat sampah.  Ngeri gak sih?  Pasti pada mikirnya nih anak udah durhaka dan kejam banget. Tapi aku sepemikiran sih sama kakaknya yang memaklumi semua hal itu terjadi. Well ternyata orang itu korban toxic parenting yang extreme banget. Jadi dari kecil sampw gede kayak gak pernah merasakan kasih sayang, dimarahin terus sama orang tuanya apapun yang dia lakuin.  Bahkan ketika dia berprestasi sekalipun, dia gak pernah dipuji. Pokoknya gitudeh. Aku sedikit banyak juga sempet ngalamin, that's why here I'm.  Depressed. 

Aku ceritain pengalaman dari aku ya.  Aku sama adek-adek aku dari kecil emang udah strict banget tentang pendidikan. Kita harus belajarr teruss.. Dapat nilai bagus,  dapat rangking di sekolah. Walaupun adek aku yang pertama pembangkang banget jadi dia gada tuh nurut orang tua. Awalnya aku ngerasa biasa aja sih, ya kewajiban kita kan untuk belajar.  Tapi lama-lama gedeg juga,  capek bangett harus belajar mulu apalagi kalau baru balik dari sekolah sampe SMA aku gila belajar banget tapi aku enggak bahagia. Kerjaannya belajaaarr mulu sampe nangis sampe capekk. Sampe temen aku heran-heran kok di rumah strict banget sih belajarnya. Kalau pun aku dapat nilai gede tetep gak diapresiasi, seperti kayak cowok tadi dan seperti yang pernah aku ceritain selalu ada gema yang menyatakan "cuma 90?? Kok gak 100??". Gema itu membayangi sampe sekarang. Parah kan?  Aku gak menyalahkan sepenuhnya ke orang tua aku,  tapi harus kuakui hal kayak gini sedikit banyak mempengaruhi aku di masa depan, mempengaruhi aku sekarang. Ilmu parenting mereka juga udah semakin bertambah sehingga udah gak sestrict dulu. Tapi sudah terlambat kan,  aku terlanjur dididik seperti itu,  takut bangett salah,  takut banget dapet nilai jelek, sampe depresi begini. Tapi setelah aku speak up mengenai hal yang aku rasain,  semuanya seakan berubah 180 derajat. Aku merasa mereka menjadi parents yang terbaik. So kalau kalian mencoba speak up apa yang kalian rasain mungkin orang tua kalian akan mengerti.  Si cowok tadi juga udah speak up tapi emang orang tuanya aja yang toxic parahhh.  Kehidupan keluarganya tidak harmonis karena menikah berlandaskan kepentingan, bukan karena perasaan cinta jadi lah keluarga yang seperti itu. 

Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya,  semua yang kita lakuin akan berdampak domino. Berdampak ke anak-anak kalian nantinya so please jangan asal nikah, jangan asal punya anak.  Membesarkan anak tidak bisa dengan main-main tanpa ilmu.  Semua akan berdampak sama si anak.  Kasian banget anak-anak kalau tumbuh di lingkungan yang gak baik,  akan berdampak sampai dia besar.  Toxic parenting itu krusial banget dampaknya bagi kehidupan seseorang. Parents adalah orang yang menjadi tauladan bagi anak. Kalian memberika contoh bagaimana anak-anak itu dalam pergaulannya. Pernah nonton banyak drama dimana pemainnya rusak karena toxic parenting. Apalagi kalau sampe ada kekerasan dalam rumah tangga. Anak bisa depresi,  bisa trauma,  mereka bisa saja jadi pembunuh kayak cowok tadi yang tega bunuhin orang tuanya.  Dan kita gak bisa nyalahin dia sepenuhnya,  ya meskipun membunuh itu salah tapii cobaa deh bayangin jadi dia, sakit secara emosional dan psikis seumur hidupnya selama 25 tahun. Ya Allah aku gak bisa bayangin.  Rasanya pengen mati aja kalau jadi dia mah. 

Pokoknya tetap hati-hati dalam bertindak. Untuk kamu, yang masih mencari rumahmu dimana rumah ya g kamu tinggali sekarang sudah tidak seperti rumah lagi,  let me hug you. Jangan dipendam ya semua rasa sakit itu, coba ceritakan,  minta pertolongan, coba speak up apa yang kamu rasakan. Coba bicarakan baik-baik sampai mereka paham. Aku tau kamu lelah, dan saat kelelahanmu meminta tempat untuk pulang, kamu malah menemukan alasan kamu kelelahan, aku tahu.. Aku selalu terbuka untuk kamu yang ingin bercerita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INNER-CHILD

  Hai hari ini aku mau bahas mengenai inner-child atau luka batin. Well, inner-child ini sebenarnya hampir ada di semua orang baik sadar maupun tidak disadari. Tanpa kita sadari inner-child yang belum disembuhkan sangat mempengaruhi kehidupan kita, bagaimana kita bersikap, bagaimana menghadapi masalah, bagaimana hubungan kita dengan orang lain. Jadi apakah penting menyembuhkan inner-child? Menurutku sangat penting. Sama seperti ketika kita terluka, tentu perlu diobati karena jika dibiarkan begitu saja akan terjadi infeksi atau pembengkakan yang justru memberikan akibat yang lebih parah. Menurutku jadi berat bagi kita juga untuk menjalani kehidupan dan karena manusia adalah makhluk social yang berinteraksi dengan orang lain, inner-child yang belum disembuhkan sedikit banyak bisa melukai orang lain. Contoh kecilnya, bagaimana kita mendidik atau berperilaku kepada anak-anak. Orang yang belum sembuh dari inner-childnya cenderung untuk melampiaskan luka batinnya kepada anak tersebut...

PUZZLE SAMA SISI

  Jarum runcing di jam yang melingkar di pergelangan tangan Aira menunjukkan pukul 17.30, bagaskara bersiap-siap untuk berpamitan setelah menunaikan tugasnya hari ini dan bersiap memberi terang pada penduduk Bumi dalam diamnya melalui rembulan. Perjalanan sepulang kerja selalu diwarnai rangkaian besi-besi besar bermuatan wajah kusut penuh peluh. Isi kepala dan lelah daksa membuatnya abai pada indahnya jingga tanda pamitnya sang bagaskara. Benda empuk di tempat bernama rumah serta segarnya alir menjadi damba. Namun, berbeda dengan dua insan yang tengah asik bercengkrama menikmati henti sejenaknya roda empat yang mereka tumpangi akibat sesaknya muatan jalanan. Sekadar bertemu sapa dan bertukar cerita mampu mengisi kembali daya yang terkuras akibat   hampir dua belas jam digunakan untuk bergelut dengan kertas dan layar komputer.   “ kalau salat di rumah keburu gak?” Tanya yang laki-laki. “kayaknya enggak nih, ini masih panjang. Nanti berhenti di masjid depan warteg b...

Laporan Fisika (Arus & Tegangan)

MENGUKUR ARUS DAN TEGANGAN LISTRIK I.                    Tujuan:   Mengetahui cara mengukur arus dan tegangan listrik II.                 Landasan Teori 1.       Hukum Ohm              “ besar kuat arus yang mengalir dalam suatu penghantar berbanding langsung dengan beda potensial antar ujung-ujung penghantar , asalkan suhu penghantar tetap . “                 Hukum ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan, dan tahanan berhubungan.  George ohm menentukan secara eksperimental bahwa jika tegangan yang melewati sebuah tahanan bertambah nilainya maka arusnya juga akan bertambah nilainya. Begitu juga sebaliknya. Hukum ohm dapat dituliskan dalam rumus seb...