Langsung ke konten utama

Postingan

C

“hufft” aku menghela napas berat. “capek hidup”. Hahah.  Hari ini hari bersejarah bagi seorang Camelia, aku akhirnya mencari pertolongan. Aku sangat takut pada diriku sendiri sekarang. Terkadang sangat Bahagia, tertawa sendiri untuk hal sepele kemudian menangis sejadi-jadinya untuk hal yang juga sepele. Aku sudah gila. Tahu yang lebih menakutkan dari semua itu? Aku seperti psikopat, takut melihat benda tajam. Membayangkan benda itu berada di pergelangan tanganku yang tipis, memaksa darah dari nadiku memancar. Pikiran yang membayangiku 24 jam 7 hari seminggu. Aku seperti akan gila memiliki pemikiran seperti itu. Tak kusangka hari bersejarah itu akhirnya datang. Aku selalu membayangkan diriku ketika bertemu dengan psikolog atau psikiater, aku akan menangis sejadi-jadinya, menghabiskan tissue yang sangat banyak, menceritakan seluruh keluh kesah yang tak dapat kuceritakan kepada orang tua dan teman-temanku.  Aku sudah berlatih keras kemarin. Sambil menangis bertliter-lite...

Toxic Parenting

sebelumnya aku ceritakan yang aku alami sekarang. Saya curhat dikit dulu ye hehe... Seperti yang sudah pernah kuceritakan, bahwa di kepalaku selalu ada film thriller alias film berdarah-darah gitu. Iris-iris tangan sampe pucat kehabisan darah.  Kalau naik kendaraan,  yang dikepala tuh cuma kecelakaan terus berdarah-darah,  koma di rumah sakit. Extreme banget si emang. Gatau kenapa juga pikiran yang seperti itu muncul selalu.  Bahkan ngerasa pengen suicide tanpa alasan jelas.  Mungkin orang-orang kayak udah sanggup lagi dengan masalah hidupnya,  aku kadang cuma pengen aja gitu ngelakuinnya.   Hari ini kita bahasa mengenai toxic parenting. Udah pengen bahas ini dari lama, mungkin pernah bahas dikit juga di tulisan sebelumnya. Ini efek abis nonton video mas Hansol tentang seorang anak yang tega membunuh dan mutilasi orang tuanya terus bagian-bagian tubuhnya disebar ke berbagai tempat sampah.  Ngeri gak sih?  Pasti pada mikirnya nih ana...

WOT

It's been a long time.  Aku di sini setelah menyelesaikan buku magis yang akan menjadi salah satu buku favoriteku,  Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa karya Alvi Syahrin. Pokoknya yang khawatir akan masa depan,  pencarian jati diri,  usia 20-an wajib banget bacaaaa.  Ada beberapa part yang nampar banget terutama di part akhir buku. Aku di sini merasa seperti akan pengakuan dosa. Well,  aku ingin berbagi cerita yang jarang dibagikan orang lain. Bahwa kita pernah gagal,  bahwa hidup tak semulus itu.   First,  mungkin bercerita mengenai jalan hijrahku. Rasanya sangat malu menyematkannya pada diri ini. Sumpah,  jangan pernah kaitkan saya dengan hijrah lagi. Saya gak pantes, yang berubah hanya sampul semata. Memasuki tahun ketiga setelah pengambilan keputusan itu... Banyak hal berubah. Mungkin terjadi pada semua hal,  awalnya sangat bersemangat. Memasuki tahun kedua ketiga....banyak yang memudar. Kini tertinggal aku menjad...

Bumi...

Bumi, penghunimu sedang lelah.   Masalahnya hanya sepele bagi manusia normal Tapi rasanya begitu melelahkan Bumi, jangan mintai ia bercerita lagi Banyak telinga yang tidak mengerti Banyak mulut yang merasa masalahnya lebih berat Bumi,  izinkan penghunimu ini egois. Sekali saja.   Tanpa harus memikirkan sosok lain.  Izinkan ia berbahagia sejenak sahaja.   Bumi,  aku lelah.  Izinkan aku tidur.  Aku lelah dengan berbagai kesalahan yang kubuat.   Aku lelah dengan ketakutan akan kesalahan. Aku lelah dengan kecemasan akan masa depan. Aku lelah menjadi sempurna.   Izinkan penghunimu ini menikmati kesalahannya.   Izinkan ia memikirkan diri sendiri.   Izinkan ia beristirahat dengan tenang.  

B

Masih terbayang adegan yang kunonton tadi, bagaimana pemeran wanita bertarung dengan traumanya, bagaimana si psikopat yang memiliki masa lalu kelam berupa toxic parenting yang berujung depresi hingga tega membunuh orang-orang yang juga depresi. Aku hanya bisa melihat orang-orang yang depresi pun tak serta merta ingin mati, toh mereka tetap ketakutan saat akan dibunuh. Film thriller kembali menari-nari di kepalaku. Rasanya sudah lama sekali. Lama sekali tidak bertemu perasaan itu lagi. Ahh harusnya aku tidak menonton kisah seperti itu tapi aku mana tau bahwa ada pembunuh yang depresi dalam film itu. Jadilah aku sekarang, berkutat kembali dengan pikiranku mengenai sekelumit cuplikan darah merembes di kepala dan hal-hal yang aku kira sudah kubuang jauh-jauh dari hidupku. Aku menatap obat-obat di nakas, ahh tidak lagi. Aku sudah Lelah mengonsumsi semua itu. Melelahkan sekali. *** Hari ini waktu berjalan seperti biasa, tak ada yang menarik. Aku membuka media sosial ingin melihat ap...

Jangan Tertipu Kesempurnaan

pernah gak sih liat orang cantik,  kaya, banyak yang sayang tetapi merasa depresi?  Pernah dong ya,  Sulli dan Goo Hara salah satu contohnya.  Karena perasaan hampa itu gak cuma dirasain sama orang yang hidupnya keliatan susah.  Semua orang berjuang mati-matian di hidupnya.  Sesempurna apapun yang terlihat,  yakin dehh kisah sesungguhnya gak semulus itu.  Jadi jangan pernah lagi bilangin "apasih yang kurang?  Dia sempurna dan hidupnya sempurna,  kenapa harus depresi?" karena depresi gak milih-milih.   Saya juga merasa termasuk dalam jajaran yang hidupnya sempurna tapi malah didiagnosis depresi. Saya juga gak bakal jabarin alasannya karena itu masih menjadi misteri bagi saya,  saya gak bakal ceritain semuanya tapi inget selalu kalau depresi bisa mengganggu siapaa saja.   Pernah dengar Jaehyun NCT bilang, kalau dia selalu kepikiran untuk menjadi sempurna. 'everyone always tell me that you are perfect t...

Gapapa

Tulisan ini kudedikasikan untuk orang-orang yang membutuhkan.  Hey kamu,  Gapapa kalau kamu buat salah,  kamu manusia kok bukan malaikat.   Gapapa kalau kamu banyak pikiran, tapi jangan sampe overthinking ya.  Gapapa kalau kamu terlambat dari yang lain,  take your time beib everyone has their own. Gapapa kalau kamu mau nangis,  itung-itung ngeluarin racun tubuh.  Gapapa kalau kamu merasa gak baik-baik saja, udah bukan bocah lagi emang yang bahagia terus.   Gapapa kalau kamu khawatir dengan masa depan, tapi inget rencana Allah selalu yang terbaik.   Gapapa kalau kamu kalah start,  bukan berarti kalah finish kan?   Gapapa kalau kamu capek lelah, it's okay just take a rest well.   Gapapa kalau kamu tertinggal selangkah.  Gapapa kalau jalan yang kamu pilih berbeda,  jalan setiap orang gak harus sama kan? Gapapa kalau kamu berbeda, kita beda dengan ciri khasnya masin...