Langsung ke konten utama

Postingan

D

“astagfirullah…astagfirullah…” Aku menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali sambil terus melafalkan istighfar. Mataku memanas, kepalaku penuh kekhawatiran. Ia kembali, anxiety itu kembali dan ia siap menggerogoti setiap sudut hidupku. Aku menenggelamkan diri dalam pelukan dengan diriku sendiri, aku terisak, aku goyah, aku patah, lagi. Aku ingin berteriak begitu kerasnya, aku ingin ke ujung dunia lalu berteriak di depan tebing tinggi, sangat kencang. *** Hari ini memasuki hari ke 20 setelah berita tersebut pecah di negara ini. Kematian ke 49 sudah tercatat. Tanganku bergetar hebat membaca berita hari ini. Dokter-dokter dan tenaga kesehatan yang berada di lini terdepan mulai berguguran, aku semakin terguncang. Peristiwa ini mungkin bukan yang pertama kalinya tapi peristiwa ini yang paling membumi hanguskan negara. Semua kegiatan dihentikan, semua orang diminta tetap tinggal di rumah, sekolah dan universitas diliburkan, bahkan ada permintaan work from home . Semua dil...

Happy Womans Day

Hellooo!! Welcome back to my blog. Hari ini tanggal 8 Maret, selamat hari perempuan bagi seluruh perempuan yang menginjakkan kaki di planet biru ini!!!! Yeyyy! Apa kabar perempuan di tahun 2020 ini? Karena hari ini hari perempuan, aku sebagai perempuan ingin misuh-misuh. Zaman modern ya, yang aku lihat sebagai zaman fisik dapat privilege. Iya tidak? Zaman kalau kamu cantik, kalau kamu berpenampilan menarik maka hampir setengah permasalahan hidup mu teratasi. Sering dengar kan? Sad but true. Sedih banget rasanya hal kayak gitu masih ada di 2020 bahkan makin menjadi-jadi. Tapi sekarang banyak kok wanita cantik, skincare sudah mendominasi muka bumi ini. Tinggal kitanya aja mau males-malesan gamau rawat diri atau gimana. Saya gak mihak kemana pun tapi ya mari berbicara sesuai fakta aja sih yah. Kayaknya pembahasan kayak gini udah banyak bangetttt sii ya. Tapi siapa sih yang bahas kayak gitu? Aku masih percaya seperti yang Lay bilang kalau gak ada cewek jelek di dunia ini. Loh aku j...

C

“hufft” aku menghela napas berat. “capek hidup”. Hahah.  Hari ini hari bersejarah bagi seorang Camelia, aku akhirnya mencari pertolongan. Aku sangat takut pada diriku sendiri sekarang. Terkadang sangat Bahagia, tertawa sendiri untuk hal sepele kemudian menangis sejadi-jadinya untuk hal yang juga sepele. Aku sudah gila. Tahu yang lebih menakutkan dari semua itu? Aku seperti psikopat, takut melihat benda tajam. Membayangkan benda itu berada di pergelangan tanganku yang tipis, memaksa darah dari nadiku memancar. Pikiran yang membayangiku 24 jam 7 hari seminggu. Aku seperti akan gila memiliki pemikiran seperti itu. Tak kusangka hari bersejarah itu akhirnya datang. Aku selalu membayangkan diriku ketika bertemu dengan psikolog atau psikiater, aku akan menangis sejadi-jadinya, menghabiskan tissue yang sangat banyak, menceritakan seluruh keluh kesah yang tak dapat kuceritakan kepada orang tua dan teman-temanku.  Aku sudah berlatih keras kemarin. Sambil menangis bertliter-lite...

Toxic Parenting

sebelumnya aku ceritakan yang aku alami sekarang. Saya curhat dikit dulu ye hehe... Seperti yang sudah pernah kuceritakan, bahwa di kepalaku selalu ada film thriller alias film berdarah-darah gitu. Iris-iris tangan sampe pucat kehabisan darah.  Kalau naik kendaraan,  yang dikepala tuh cuma kecelakaan terus berdarah-darah,  koma di rumah sakit. Extreme banget si emang. Gatau kenapa juga pikiran yang seperti itu muncul selalu.  Bahkan ngerasa pengen suicide tanpa alasan jelas.  Mungkin orang-orang kayak udah sanggup lagi dengan masalah hidupnya,  aku kadang cuma pengen aja gitu ngelakuinnya.   Hari ini kita bahasa mengenai toxic parenting. Udah pengen bahas ini dari lama, mungkin pernah bahas dikit juga di tulisan sebelumnya. Ini efek abis nonton video mas Hansol tentang seorang anak yang tega membunuh dan mutilasi orang tuanya terus bagian-bagian tubuhnya disebar ke berbagai tempat sampah.  Ngeri gak sih?  Pasti pada mikirnya nih ana...

WOT

It's been a long time.  Aku di sini setelah menyelesaikan buku magis yang akan menjadi salah satu buku favoriteku,  Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa karya Alvi Syahrin. Pokoknya yang khawatir akan masa depan,  pencarian jati diri,  usia 20-an wajib banget bacaaaa.  Ada beberapa part yang nampar banget terutama di part akhir buku. Aku di sini merasa seperti akan pengakuan dosa. Well,  aku ingin berbagi cerita yang jarang dibagikan orang lain. Bahwa kita pernah gagal,  bahwa hidup tak semulus itu.   First,  mungkin bercerita mengenai jalan hijrahku. Rasanya sangat malu menyematkannya pada diri ini. Sumpah,  jangan pernah kaitkan saya dengan hijrah lagi. Saya gak pantes, yang berubah hanya sampul semata. Memasuki tahun ketiga setelah pengambilan keputusan itu... Banyak hal berubah. Mungkin terjadi pada semua hal,  awalnya sangat bersemangat. Memasuki tahun kedua ketiga....banyak yang memudar. Kini tertinggal aku menjad...

Bumi...

Bumi, penghunimu sedang lelah.   Masalahnya hanya sepele bagi manusia normal Tapi rasanya begitu melelahkan Bumi, jangan mintai ia bercerita lagi Banyak telinga yang tidak mengerti Banyak mulut yang merasa masalahnya lebih berat Bumi,  izinkan penghunimu ini egois. Sekali saja.   Tanpa harus memikirkan sosok lain.  Izinkan ia berbahagia sejenak sahaja.   Bumi,  aku lelah.  Izinkan aku tidur.  Aku lelah dengan berbagai kesalahan yang kubuat.   Aku lelah dengan ketakutan akan kesalahan. Aku lelah dengan kecemasan akan masa depan. Aku lelah menjadi sempurna.   Izinkan penghunimu ini menikmati kesalahannya.   Izinkan ia memikirkan diri sendiri.   Izinkan ia beristirahat dengan tenang.  

B

Masih terbayang adegan yang kunonton tadi, bagaimana pemeran wanita bertarung dengan traumanya, bagaimana si psikopat yang memiliki masa lalu kelam berupa toxic parenting yang berujung depresi hingga tega membunuh orang-orang yang juga depresi. Aku hanya bisa melihat orang-orang yang depresi pun tak serta merta ingin mati, toh mereka tetap ketakutan saat akan dibunuh. Film thriller kembali menari-nari di kepalaku. Rasanya sudah lama sekali. Lama sekali tidak bertemu perasaan itu lagi. Ahh harusnya aku tidak menonton kisah seperti itu tapi aku mana tau bahwa ada pembunuh yang depresi dalam film itu. Jadilah aku sekarang, berkutat kembali dengan pikiranku mengenai sekelumit cuplikan darah merembes di kepala dan hal-hal yang aku kira sudah kubuang jauh-jauh dari hidupku. Aku menatap obat-obat di nakas, ahh tidak lagi. Aku sudah Lelah mengonsumsi semua itu. Melelahkan sekali. *** Hari ini waktu berjalan seperti biasa, tak ada yang menarik. Aku membuka media sosial ingin melihat ap...